Rabu, 04 Januari 2012

Commuter Line, KRL 'Bisnis' Rasa Ekonomi

Jakarta -
Setelah PT KAI menghapuskan KRL ekspress dengan tiket Rp 11 ribu, serta ekomomi AC bertiket Rp 5.500, Commuter Line disiapkan untuk mengganti kereta tersebut. Namun kereta 'bisnis' yang menghubungkan Jabodetabek ini masih jauh dari nyaman.

Di jam-jam sibuk, penumpang berjejal dalam KRL. Kadang peran AC digantikan kipas angin. Payahnya, kadang tidak ada kipas angin juga sehingga penumpang terpaksa membuka jendela untuk mendapatkan udara dari luar. Padahal commuter line ini bertarif Rp 7 ribu, lebih mahal dari KRL ekonomi AC yang dulu dihapuskan.

"Kalau begini tidak ada bedanya dengan kereta ekonomi. Di jam sibuk pulang kerja, gerak saja susah di dalam kereta," ujar Ridwan, seorang penumpang KRL Jakarta-Bogor, Kamis (5/1/2011).

Tak hanya di jam sibuk pergi dan pulang kantor kereta ini penuh sesak. Pukul 10.00 WIB, saja kereta berjejal. Kebanyakan penumpangnya ibu-ibu yang membawa anak. Serta karyawan kantor yang dapat jatah masuk siang.

Yang patut disayangkan, kadang masih ada pria yang enggan memberikan tempat duduknya untuk wanita hamil atau yang membawa anak. Padahal mereka menempati tempat duduk yang khusus disediakan untuk ibu hamil dan penyandang difabel.

Contoh nyata seorang wanita hamil naik di Stasiun Manggarai menuju Bogor. Wanita itu meminta agar pria yang duduk di kursi khusus memberikan tempatnya. Namun pria berjaket kulit itu malah berkata sinis.

"Ibu hamil jangan naik di sini. Sudah penuh," katanya sinis.

Baru setelah digertak penumpang pria lainnya, orang tidak tahu malu itu mau berdiri dan memberikan kursinya.

Memang tidak semua penumpang berkelakuan seperti itu. Normalnya, setiap ada ibu-ibu yang membawa bayi biasanya ada saja yang berdiri memberikan tempat duduknya.

"Kasihan kalau ada ibu-ibu, bawa anak lagi. Masa yang laki-laki tidak mau mengalah," ujar Ahmad, penumpang lainnya.

(rdf/gun)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar